Selasa, 12 Januari 2016

Cuma Baru Shalat Saja...

  



Alkisah ada seorang pemuda dengan belati terhunus di tangan masuk ke mesjid dan berteriak, "Ada yang muslim tidak di sini??" Senyap. Semua terdiam ketakutan. Hanya ada seorang kakek yang menjawab, "Ya. Aku orang muslim." 

Dengan belati berkilat, orang itu menuju sang kakek dan mengapit lengannya, "Bisa ikut saya keluar," katanya. Lalu mereka keluar. 

Tidak berapa jauh dari mesjid, mereka berhenti di sebuah rumah. "Kek, bisa bantu kami memotong hewan kurban ini, biar sah secara Islam?", pintanya sambil menunjuk kambing yang terikat dengan seutas tali dan sedang merumput. Sang kakek mengambil belati, dan mulai mencoba memotong kambing itu. Dengan tenaganya yang lemah, ia mainkan belati itu ke leher sang kambing. Darah merah muncrat, tapi si kambing meronta dengan kuat ke sana ke mari. "Ah, aku tak cukup kuat nak, coba kau panggil yang lain di mesjid," pintanya menyerah. 

Si pemuda dengan belati yang berlumuran darah kembali ke mesjid, dan berteriak, "Ada orang muslim lain lagi tidak di sini??!" Seluruh jemaah pucat basi, menyangka si pemuda pasti sudah membunuh sang kakek. Senyap. Tapi semuanya kompak memandang ke satu arah : sang Imam. 

Sang Imam dengan gugup menjawab, "Untuk apa kalian semua memandang aku, hah??! Memangnya shalat dua rakaat saja sudah bikin aku muslim, apa??!"



Kisah dari Turki, 🙏😇🙏



Kamis, 07 Januari 2016

Kain Ukel

  

Apabila seseorang berkata : "Betapa baiknya kamu!" dan hal ini lebih mengembirakan dari pada mendengar : "Betapa jahatnya kamu!", ketahuilah bahwa kamu masih termasuk orang-orang yang tidak baik. 

(Pesan Seseorang)


"Tabir yang paling tebal antara manusia dan Tuhan adalah kearifan kaum arif, ibadah para ahli ibadah, dan ketaatan para hamba yang saleh." 

(Bayazid)


Tidak perlu mengikuti ceramah bertahun-tahun, pesannya pasti sama. Laksanakan.



🙏😇🙏

Kain Ukel

  



Ibn 'Arabi menulis bahwa setiap malam guru-gurunya duduk sendiri merenungkan perilaku kesehariannya dan pengalaman mereka (ber muhasabah - mengevaluasi diri).


Dengar dan resapkan. Jika kata-kata berasal dari hati, ia akan masuk ke dalam hati, jika ia keluar dari lisan, maka ia hanya sekedar melewati pendengaran.


"..., kemana pun engkau manghadap, di situlah wajah Allah berada, ..." (Q 2:115)


'Aku memanjat pohon prem.
Dan memetik buah anggur.
Sang penguasa kebun berkata dengan marah : "Mengapa engkau memakan kenariku?"' (Yunus Emre)


"Sibukkan tanganmu dengan melakukan pekerjaan duniawi, dan sibukkan hatimu dengan Allah." (Muzaffer)


🙏

Sabtu, 02 Januari 2016

Kaya

  



Di Luar Kekuasaan Kita

  

Apa daya.


Semuanya.

Termasuk kita.

Ciptaan Pemiliknya.

Di luar kekuasaan kita.


Tak berdaya.



😇


"Seekor ayam yang lapar bermimpi tentang jagung." Pepatah Turki kuno.

"Ketika seorang pencuri melihat seorang suci, yang ia lihat hanyalah sakunya." Pepatah kuno.


Sabtu, 26 Desember 2015

Hati Ada?

  

Apa yang dibaca, berjilid-jilid, lebih banyak yang terlupakan dari pada yang teringat.
Apa yang dilihat, hanya meninggalkan bayang redup bercampur baur, terlalu ramai untuk kenang dikenang.
Apa yang didengar, sayup-sayup, telah lama semua bergema, samar, gema gemanya menjauh.
Tidak tercium sembarang bau apapun, tiap-tiap bau.
Mengecappun, hanya rasa demi rasa demi rasa, yang bergiliran lewat begitu saja, segala rasa.

Otak usang, indra hilang.

Apa yang tertinggal?

Apakah hati?

Ada?

Atau hanya sifatnya, sifat hati, yang tersisa?

Apabila semua yang dibaca, dilihat, didengar, dikecap, dan dinikmati, justru menjadi beban karena perolehan itu, lebih bagus jika akhirnya tidak memilikinya sama sekali, dan, akan lebih dari cukup apabila sudah mempunyai sebuah hati, dan apabila tidak berhati sekalipun, cukuplah jika ada sifat hati yang tersisa.


😇


Senin, 14 Desember 2015

SMS : Menekan Ego

  

Kisah inspiratif dari teman UGM

Setiap berkendara dari perempatan Kamdanen, ke timur ke arah Jalan Kaliurang, aku selalu melintasi rumah almarhum Prof. Damardjati Supadjar. Setiap kali pula, aku teringat sebuah percakapan dengan beliau, yang bagiku sangat inspiratif.

Tahun 1990-an awal, Pak Damar beberapa kali mengisi acara di Masjid Ash-Shiddiiqy, Demangan -- sebuah masjid kecil yang aku turut mengurusnya. Ceramah beliau selalu sangat filosofis, sarat dengan ilmu kelas tinggi yang disajikan dengan cara amat sederhana. Ngelmu tuwo, kata beberapa jamaah senior di masjid itu.

Pada suatu kesempatan, saat turut mengantar Pak Damar pulang usai ceramah, aku bertanya pada beliau, "Pak, jadi dosen enak ya?"

"Bagi saya enak," jawab beliau, "Tapi kalau diniati untuk kaya raya, ya jadi dosen itu tidak enak."

"Tapi jadi dosen kan harus selalu menambah ilmu Pak," kataku agak kurang nyambung.

"Tentu saja. Tapi itu kan otomatis berjalan, tak perlu dipaksakan."

"Jadi tidak berat ya Pak?" tanyaku lagi.

"Sama sekali tidak. Yang berat itu malah hal lain."

"Apa itu Pak?" kataku ingin tahu.

"Mengendalikan ego," jawab beliau.

Aku membuka telinga...

"Seorang dosen, juga seorang guru atau ustadz atau kyai, mudah terjerumus pada 'ujub," Pak Damar mulai menjelaskan.
"Dengan pengetahuan yang dimiliki, dengan peluang untuk berbicara di depan orang lain yang bersedia atau dipaksa mendengarkan, semua pendidik pada dasarnya punya peluang menjadi tinggi hati. Ciri pendidik yang tinggi hati adalah gemar memamerkan pengetahuan, agar nampak pandai di hadapan anak-didiknya."

"Tapi kan itu lumrah Pak," timpalku.

"Tidak lumrah. Pendidik yang tinggi hati, sesungguhnya akan gagal mendidik. Dia hanya akan menghasilkan pengagum, bukan orang terdidik. Pendidik yang baik adalah yang mampu menekan ego di hadapan anak-anak didiknya."

"Menekan ego seperti apa Pak, maksudnya?" aku tak paham betul apa maksud Pak Damar.

"Menekan ego untuk nampak pintar. Tugas guru dan dosen bukanlah keminter di hadapan murid-muridnya, melainkan untuk memberi inspirasi."

"Menunjukkan kepintaran di hadapan murid kan juga bisa menginspirasi Pak?" tanyaku tetap kurang paham.

"Iya, inspirasi untuk kagum pada sang guru, bukan inspirasi untuk mencari ilmu sejati."

Tetap tak paham, namun aku lanjut bertanya, "Soal menekan ego itu Pak, seberapa banyak pendidik yang bisa melakukannya?"

"Hanya mereka yang bisa menghayati makna 'tidak ada ilah selain Allah' yang bisa menekan ego."

Aku tak yakin apakah aku betul-betul paham yang dimaksudkan oleh Pak Damar. Namun kata-kata itu selalu terngiang di benakku: "Seorang pendidik harus menekan ego untuk nampak pintar".


📝📖