Sabtu, 13 Mei 2017

Sabtu, 10 Desember 2016

Mar'ie Muhammad




Diceritakan oleh Jody Koesmendro.
  

"Saya pernah dapat tugas jadi ajudan beliau waktu hari keuangan, bertugas membawakan map berisi pidato amanat. 

Waktu hampir sampai ke mimbar dia bertanya tentang buku yang dibawa para peserta upacara yang terlihat olehnya. Saya katakan buku itu berisi pidato beliau. Beliau bilang suruh baca saja sendiri, 'kenapa saya harus bacakan.' 

Akhirnya diumumkan panitia bahwa amanat inspektur upacara dapat dibaca sendiri pada buku yang telah dibagi. 

Praktis dan sederhana itulah beliau. 

Selamat jalan Mr Clean."



🙏😇🙏

Jumat, 02 Desember 2016

212 : Menjadi Saksi, Berusaha Memperbaiki Hati




Ada yang mengatakan, lebih dari satu juta. Ada yang bilang dua ratus ribu, bahkan ada yang menetapkan hanya empat puluh lima ribu. Mungkin, tujuh puluh dua ribu.

Kukatakan

Mereka ratusan juta.

Untuk beribu-ribu pujian, yang tidak ada manusia yang pantas menerima pujian itu.

Untuk puluhan ribu rasa syukur, yang tidak ada yang akan mampu menambahkannya dengan karunia apapun.

Untuk ratusan ribu pengakuan, hanya pada satu pengakuan.

Tidakkah engkau mengetahui bahwa sebuah suara yang membesarkan asma-Nya, betapapun lirihnya, dapat mengundang ribuan malaikat, yang berlomba mendekat, untuk serta menyuarakannya. Langit diatas kerumunan itu pastilah dipenuhi jutaan mereka yang menggemakan suara itu menembus langit. Maha Besar Allah.






🙏😇🙏






🙏😇🙏





🙏😇🙏




🙏😇🙏

Senin, 21 November 2016

Sabtu, 15 Oktober 2016

Membayar Utang

  

Kalau anda berutang, belum anda bayar, si pemberi utang meninggal, atau tidak dapat anda temukan lagi. Bagaimana?

Katanya, sumbangkan saja sejumlah utang itu, niatkan sebagi pembayar utang, agar segala balasan terkait dengan sumbangan itu mengalir kepada pemberi utang.

Rekening dibawah pengawasan Tuhan akan memperhitungkannya dengan lebih teliti, lebih menguntungkan, dan lebih real time dari perhitungan bank mana pun.

Jadi kalau masih ada utang tersisa, lunasilah, dan jangan berutang lagi.



🙏😇🙏

Rabu, 03 Agustus 2016

Jose Mujica




Jose Mujica  






🙏😇🙏

Minggu, 03 Juli 2016

Maafkan Kami

  
 

Para sahabat Nabi SAW berkumpul di sebuah majelis. Ketika itu Rasulullah SAW tidak bersama mereka...

Ada Khalid bin Walid, Ibnu 'Auf, Bilal dan Abu Dzar di sana.

Mereka sedang mendiskusikan sesuatu. 

Abu Dzar mengemukakan pendapat dan berkata : "Menurutku, pasukannya mestinya begini dan begitu."

Bilal menyanggah : "Tidak, usulan yang keliru."

Abu Dzar membalas : "Sampai-sampai engkau juga, wahai anak orang berkulit hitam, menyalahkanku?!"

Bilal marah dan menyesalkan perkataan sahabatnya, lalu berkata : "Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah SAW."

Bilal tiba di hadapan Rasulullah SAW sambil mengadu : "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mendengar apa yang dikatakan Abu Dzar padaku?"

Rasulullah SAW bertanya : "Apa yang dia katakan padamu?"

Bilal menjawab : "Dia mengatakan begini dan begitu..."

Wajah Rasulullah berubah...

Abu Dzar  mendengar hal ini. Dia pun bergegas ke masjid dan menyapa Rasulullah SAW : "Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh... Ya Rasulullah."

Rasulullah saw menjawab : "Wahai Abu Dzar, apa engkau menjelekkan ibunya? Sungguh, pada dirimu ada kejahiliyahan..."

Abu Dzar sontak menangis, lalu mendekat ke Rasulullah dan berkata : "Wahai Rasulullah, mintalah kepada Allah agar Dia mengampuniku..."

Sambil menangis dia keluar dari masjid menemui Bilal yang sedang berjalan... 

Dia baringkan kepalanya hingga pipinya menempel di tanah dan berkata : "Wahai Bilal, demi Allah, aku tak akan mengangkat kepalaku, sampai engkau menginjaknya dengan kakimu... Engkau orang yang mulia, dan aku orang yang hina..."

Hal ini membuat Bilal menangis... Dia mendekati sahabatnya, mendekapnya dan berkata : "Demi Allah, aku tak akan menginjak wajah yang senantiasa sujud kepada Allah..."

Mereka berdua lalu berdiri, berpelukan sambil menangis...

Adapun Hari Ini... 

Iya... Hari ini...

Di antara kita menyakiti saudaranya 10 kali, dan dia tak mengatakan : "Maafkan aku, wahai saudaraku."

Di antara kita mencela saudaranya, melukai prinsip dan hal paling berharga pada diri saudaranya, dan dia tak mengatakan : "Maafkan aku."

Sebagian lagi, melanggar kehormatan saudaranya dan menzaliminya, tapi malu mengatakan : "Aku menyesalinya."

Meminta maaf merupakan tradisi orang yang mulia, meski sebagian menganggapnya menghinakan diri...

"Tak ada kebaikan pada diri kita, jika kita meninggal dunia dalam keadaan belum saling memaafkan." 




🙏😇🙏