Rabu, 25 Juni 2014

Waktu


  

"Waktu tidak pernah akan ada.
Jika tidak disediakan."



'The Matrix Reloaded'

Senin, 23 Juni 2014

Sabtu, 21 Juni 2014

Cik Mus

  


"Ape keghje awak ni?

Seperti biasa, dengan jawaban yang diharapkan dari seorang Melayu tulen pulau-pulau Riau, dia menjawab : "Tak adee."

Duduk di pelantar yang menghubungkan jalan ke Mesjid Penyengat, menghadap secangkir kopi susu, Cik Mus, memang tidak sedang bekerja. Mungkin dia sudah duduk disitu jenak beberapa jam.

Tapi, seperti seorang sopir taksi di Jakarta pernah katakan, semua rakyat kecil sudah bekerja keras. Siapa pun pemimpin yang akan datang, apapun program pembangunannya, tak ada pengaruhnya dengan rakyat kecil, rakyat paling kecil sudah sedari dulu bekerja keras. Petani nyangkul, sopir taksi nyopir, nelayan memancing, buruh-buruh sudah dan selalu membanting tulang.

Begitu juga Cik Mus.

Meski dia bilang, tak adee. Dia sudah hampir menyelesaikan tugasnya, bekerja sepenuh waktu, mendedikasikan jiwa dan raganya, menjadi nelayan seumur hidup. Anaknya sudah mandiri, dalam arti berumah sendiri, dia tinggal berdua dengan istrinya. Semua sudah hampir selesai. Tidak ada lagi, seperti kata "tak adee", yang diucapkannya lirih seakan menyapa.

Dia merasakan sudah kurang cukup kuat untuk turun kelaut memancing setiap hari, jadi ketika siang senggang, ia kadang duduk menenggang waktu disitu. Di hari terang terik seperti hari ini, udara di daratan amat panas, duduk di pelantar ini akan sedikit terasa lebih dingin, karena tersapu angin laut. Angin yang telah ia rasakan seumur hidup meniup setiap pori di sekujur tubuhnya.

Hidup mungkin akan berakhir, tetapi nelayan harus terpaksa tetap melaut, sampai mati. Sama seperti buruh, sopir taksi, dan petani, tetap bekerja keras, sampai ke tubir batas. Hingga ke pusaran maut, Cik Mus harus bertaut dengan laut.

Sesekali, akhir minggu, dia menyediakan jasa mengantar orang-orang kota pergi memancing. Hal yang cukup ia banggakan. 

Pengetahuan tentang, waktu ikan lapar, arus laut dan arah angin, serta instink nelayan yang telah menyatu dalam dirinya, membuat ia merasa lebih bisa diandalkan sebagai pemandu. Orang bisa sampai ke lokasi-lokasi yang sama, tetapi tidak menemukan seekor ikan pun, ulasnya. 

Kalau mau, katanya lagi, dengan tarip enam ratus ribu, untuk sewa perahu, ia dapat mengantarkan memancing sepanjang hari, tujuh ratus ribu untuk acara memancing sepanjang malam. Ikan terpancing, jaminan pasti.



Cik Mus


Mesjid Penyengat

Sabtu, 14 Juni 2014

Akal Budi

  


  
Budi pekerti.



Sungguh indah pohon kenari.
Tegak tinggi di hutan jati.
Jika ingin menghias diri.
Hiasi dengan akal budi.



Rabu, 14 Mei 2014

Air Mata Buaya

 

Kupu-kupu dan lebah sedang minum air mata buaya.


  
  





Sumber : National Geographic

Selasa, 13 Mei 2014

Berapa Segi Tiga?




Tidak ada satu pun segi tiga di gambar ini. 
  
  


Sabtu, 10 Mei 2014

Herb Feith


 


Pada salah satu hari Jum'at siang, bulan Desember 1992. 

Cuacanya terik.

Jamaah Jum'at sedang tekun mendengarkan khotbah. Di tengah-tengah jamaah itu, duduk, sesekali berpeluk lutut, seorang bertubuh kecil agak kurus, brewok tipis, berkacamata agak tebal, dengan seksama mendengarkan khotbah yang disampaikan. Berbaju kemeja corak batik, layaknya seorang Indonesia, berbaur sebati dengan jamaah.

Selesai khotbah, semua berdiri memulai shalat Jum'at, dia pun berdiri, berbaris bersama safnya. 

Sembahyang Jum'at pun dimulai.



Hari ini, tahun 2014, ada buku terjemahan ke Bahasa Indonesia tentang diri orang itu, Herb Feith, seorang Yahudi Swedia, boyong ke Australia, yang meninggal pada kecelakaan tragis pada November 2001, dijual di toko-toko buku di Jakarta.



Panas teriknya Jum'at itu, terjadi di salah satu pelataran gedung di Universitas Monash, Melbourne, di sela acara Konferensi Demokrasi, yang dihadiri orang-terkemuka Indonesia, termasuk, salah satu yang memeriahkan konferensi, Abdurrachman Wahid, yang saat itu belum menjadi presiden Republik Indonesia.



Semua mereka, saling kenal, saling silang.




10 Mei 2014.